Assesment Jetty & Underwater Inspection
Jetty atau dermaga merupakan infrastruktur vital yang mendukung operasional pelabuhan, bongkar muat, dan transportasi laut, karena terletak di lingkungan pesisir dan air yang korosif, dermaga sangat terpengaruh oleh berbagai kekuatan, seperti aksi gelombang, arus, pasang surut, serta proses degradasi material, seperti korosi pada baja dan retak pada beton. Demi mendukung lancarnya operasional, jetty harus dipastikan tetap berfungsi dengan baik sesuai dengan desain rencana, maka dari itulah kegiatan assessment jetty dan undewater inspection perlu dilakukan secara berkala. Assesment jetty dilakukan untuk mengetahui kondisi struktur jetty baik yang diatas permukaan air maupun di bawah permukaan air. Sedangkan underwater inspection merupakan pemeriksaan spesifik terhadap bagian struktur yang berada di bawah permukaan air, seperti pile, pile cap dan bracing maupun pipa-pipa yang ada di bawah permukaan air. faktor-faktor yang menyebabkan kerusakan struktur antara lain : Salah satu faktor terbesar kerusakan yang terjadi pada jetty yakni efek klorida. Ion klorida yang terkandung pada air laut dapat menyebabkan hancurnya lapisan pada stuktur. Dalam reaksinya, magnesium akan bereaksi dengan tricalcium aluminate dan kalsium hidroksida yang kemudian akan membentuk tricalcium sulphoaluminate, kalsium sulfat dan magnesium hidroksida. Reaksi ini akan menyebabkan air memiliki nilai PH yang rendah atau bersifat asam yang akhirnya dapat mengakibatkan korosi pada struktur baik itu logam maupun non logam. Bagian yang paling rentan terkena korosi yakni splash zone, area peralihan antara darat dan laut. Area ini dipengaruhi oleh pasang surut air laut, jika air sedang pasang maka area itu akan terendam air, tetapi jika air sedang surut maka splash zone tidak terendam air. Hal ini menyebabkan pile lebih rentan terhadap korosi. Jetty di desain tahan terhadap ombak, dimana pada proses konstruksinya terlebih dahulu dilakukan pengukuran kecepatan arus yang kemudian kuat arus terbesarnya akan dimasukkan kedalam perencanaan. Realita yang terjadi bukan ombak yang merusak jetty, namun ombak mengombang ambing kapal sehingga tak jarang kapal menabrak jetty, kejadiannya terus berulangsehingga terjadilah kondisi fatigue yang akhirnya menyebabkan kerusakan pada struktur. Organisme laut seperti tritip (barnacles), kerang, dan alga sering menempel di permukaan tiang pancang jetty, terutama di zona pasang surut. Walaupun terlihat tidak berbahaya, penumpukan biota laut ini dapat menambah berat dan memperbesar gaya drag (seret) dari arus laut, sehingga meningkatkan tekanan pada elemen struktur. Selain itu, beberapa jenis organisme menghasilkan zat kimia atau aktivitas biologis yang dapat mempercepat biokorosi pada material logam. Jika dibiarkan tanpa pembersihan berkala, lapisan organisme ini akan menutupi permukaan hingga sulit diinspeksi dan berpotensi mengurangi umur layanan struktur bawah air. Setiap struktur memiliki umur rencana (design life) yang ditentukan berdasarkan material, lingkungan, dan beban kerja. Seiring bertambahnya usia, material akan mengalami penurunan kekuatan alami akibat korosi, karbonasi, dan beban berulang yang terus bekerja. Beton menjadi lebih rapuh, baja menurun kekuatan tariknya, dan sambungan mekanis melemah. Tanpa program rehabilitasi atau penguatan, struktur yang sudah menua dapat mengalami penurunan kapasitas dukung, retak struktural, atau deformasi permanen. Oleh karena itu, inspeksi kondisi dan evaluasi berkala sangat penting untuk memastikan keamanan dan fungsionalitas jetty jangka panjang. Kerusakan sering kali bermula dari tahap pelaksanaan konstruksi yang tidak memenuhi standar mutu. Kesalahan seperti campuran beton yang tidak sesuai desain, cover tulangan yang terlalu tipis, atau pengelasan baja yang tidak sempurna dapat menurunkan ketahanan struktur terhadap lingkungan laut yang korosif. Dalam kondisi seperti ini, struktur lebih cepat rusak karena air laut mudah menembus pori-pori beton dan mempercepat korosi. Oleh sebab itu, pengawasan kualitas (quality control) yang ketat selama pekerjaan menjadi kunci utama agar hasil konstruksi memiliki durabilitas tinggi dan sesuai dengan umur rencana desainnya. Ruang lingkup pekerjaan meliputi pemeriksaan langsung seluruh bagian jetty, mulai dari dek, balok, pile cap, hingga fender dan mooring dolphin. Setelah itu dilanjutkan pengecekan bawah air dari zona pasang-surut sampai dasar laut untuk mencari kerusakan yang tak terlihat. Selain itu dilakukan tes nondestruktif pada beton dan elemen baja untuk menilai kondisi material tanpa merusaknya, dan kondisi lingkungan seperti arus, gelombang, kadar garam, serta pertumbuhan organisme laut dicatat. Seluruh data ini dikumpulkan dan dianalisis untuk menentukan seberapa parah kerusakannya dan langkah perbaikan yang diperlukan. Kegiatan assessment dan inspeksi bawah air memiliki tujuan utama untuk memperoleh gambaran nyata mengenai kondisi struktur secara menyeluruh. Melalui kegiatan ini, potensi bahaya akibat kerusakan yang tidak terlihat dapat diidentifikasi sejak dini, sehingga tindakan pencegahan atau perbaikan bisa dilakukan sebelum masalah berkembang lebih serius. Adapun tujuan yang lain yakni :
![[GSI Assessment] Underwater Inspection](https://grahasurvei.com/wp-content/uploads/2025/10/GSI-Assessment-Underwater-Inspection-1024x714.jpeg)
![Ultrasoic Pulse Echo [UPE] Structural Assessment [Graha Survei Indonesia]](https://grahasurvei.com/wp-content/uploads/2025/10/20kb-Ultrasoic-Pulse-Echo-UPE-Structural-Assessment-GSI-2.jpeg)